Jumat, 21 September 2012

Perubahan Iklim Menyebabkan Menjalarnya Penyakit Sesak Nafas






Kementerian Kesehatan mengingatkan kepada masyarakat akan potensi penyakit menular akibat adanya perubahan iklim yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.


Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, HM.Subuh mengatakan tren dalam 30 tahun ke depan, penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan diare akan terus menjadi ancaman bagi masyarakat.


"Kalau dilihat dari kenyataan (perkembangan iklim) yang ada, tren 30 tahun ke depan masih ISPA, kemudian diare. Ini mempunyai kecenderungan terus meningkat. Yang perlu kita harus buat tren kasus," kata Subuh dalam keterangannya di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat 21 September 2012.

Subuh menambahkan penyakit ISPA merupakan pembunuh balita yang terlupakan. ISPA menurutnya sangat rentan dengan perubahan iklim. Jika sudah masuk ke bawah paru-paru (pneumonia), penyakit ini akan semakin susah ditangani, karena penyakit kategori ini ditandai dengan gejala sesak nafas, susah nafas, demam tinggi dan kejang.

"Riset Kemenkes pembunuh nomor dua itu pneumonia. Begitu pneumonia kemungkinan tidak bisa ditangani, bisa ke ICU, tapi tidak semua daerah mencukupi," tambahnya.

Ia mengatakan kasus ISPA sepanjang 2007-2011, sebagian besar ISPA yang bukan pneumonia. Subuh juga membeberkan potensi penyakit ini. "Angka ISPA itu 5-6 persen dari populasi," lanjutnya.

Untuk itu ia mengingatkan masyarakat untuk secara dini menjaga perilaku hidup sehat, menjaga lingkungan dan jangan menganggap enteng penyakit ISPA. Ia juga memberi peringatan terhadap sistem kesehatan di tingkat pemerintah daerah.

"Proteksi penderita flu. Jika terdapat gejala, segera periksa, kita kan punya fasilitas kesehatan, jika terlambat akan sulit penanganannya," ujarnya.

Sementara itu, ia mengatakan target Kemenkes yaitu mengantisipasi mewabahnya kasus penyakit malaria. Pada 2030, pihaknya menargetkan eliminasi penyakit menular ini.

"Status kasusnya kami eliminasi, dari 10 ribu orang. Itu artinya kurang dari 1 orang yang terkena malaria," katanya.

Menurut data kasus ISPA di Indonesia sepanjang 2007 sampai 2011, penyakit ini terus mengalami tren kenaikan. Pada 2007 jumlah kasus ISPA berkategori batuk bukan Pneumonia sebanyak 7.281.411 kasus dengan 765.333 kasus Pneumonia, kemudian pada 2011 mencapai 18.790.481 juta kasus batuk bukan pneumonia dan 756.577 pneumonia.

Selain mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, pihak Kemenkes juga telah melihat tren perubahan iklim sampai 30 mendatang. "Kami sudah punya, dan bisa dilihat tren kemana saja," katanya.


                                            
sumber : beritaunik.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar